Panel Forum “Strategis Atjeh Dalam Pilpres 2009”

Panel Forum: Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta

SDC11302Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta bekerja sama dengan Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P-LIPI) menyelenggarakan Panel Forum. Dengan tema Arah Strategis Rakyat Aceh Dalam Pilpres 8 Juli 2009, pada Kamis, tanggal 25 Juni 2009 di Gedung Seminar LIPI Jakarta. Acara Panel di mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Yang dihadiri oleh 250an peserta dari berbagai elemen masyarakat Aceh, mahasiswa, organisasi/lembaga keacehan dan non Aceh. Acara panel tersebut di bagi dalam tiga sesi yaitu pembukaan/serimonial, panel forum sesi pertama dan sesi kedua serta penutup. Sesi pembukaan: dibuka oleh Bapak Sahyan Asmara Deputi Pemuda dan Olah Raga Kementerian Pemuda Dan Olah Raga. Sambutan juga diberikan oleh Bupati Aceh Utara Tgk. Ilyas A. Hamid yang mewakili bupati/walikota di Aceh. Dalam sambutannya Tgk. Ilyas menekankan pada aspek perdamaian dan harapan amannya Pilpres di Aceh dan seluruh Indonesia. Dari Impas Aceh-Jakarta sekaligus ketua panitia Kamaruddin Hasan dalam sambutannya menekankan bahwa Aceh telah mengalami banyak fase dan momentum harapan kemajuan Aceh ke depan. Momentum Sejarah Aceh, proses damai yang melelahkan, MoU Helsinki, Pilkada, Pemilu legeslatif dan momentum Pilpres.

Dalam sesi panel forum pertama menampilkan tim sukses JK-Win Indra J. Piliang dan dari SBY-Boediono, menampilkan Muslim yang dipandu oleh Kamaruddin Hasan sebagai moderator. Indra J.P, menguraikan keberhasilan JK dalam proses damai Aceh, bahwa persoalan Aceh menjadi perhatian yang sangat serius bagi JK. Dan JK lah yang mengurai benang kusut Aceh. Sedangkan SBY tidak begitu paham tentang Aceh. Aceh menjadi sangat penting bagi JK, walau secara kuantitas hanya 2jutaan pemilih namun secara kualitas Aceh menjadi wacana yang sangat menarik, dalam kampaye isu Aceh digunakan hamper 50 persen. Dan saling mengkalim keberhasilan. Muslim, membantah bahwa bukan hanya JK yang berjasa dalam penyelesaiaan Aceh, namun atas persetujuan dan perintah SBYlah konflik Aceh diselesaikan. Dalam sesi ini terjadi perdebatan yang demokratis, dengan banyaknya peserta yang ingin memberikan komentar dan pertanyaan, membuat kamaruddin Hasan kualahan mengatur waktu, sampai jam 13.30 baru bisa di hentikan. Dalam sesi ini, hal yang menarik dikomentari oleh sekjen IMPAS Aceh Jakarta Zulkarnaini Abdullah, bahwa Aceh sekarang tidak membutuhkan penguasa yang otoriter, dengan hegemoni, dan pola kerja yang top down, namun dibutuhkan pemimpin yang kreatif, inovatif dan yang penting dekat dengan kalangan pemuda sebagai agen perubahan Bangsa.

Selesai makan siang, sebelum sesi kedua dimulai, DR.Ir. Mustafa Abubakar sebagai sesepuh Masyarakat Aceh-Jakarta dan ketua Bulog RI memberikan ceramahnya tentang masa depan Aceh pasca Pilpres 2009. Mantan Gubernur Aceh ini menjelaskan bahwa yang penting Aceh sekarang sudah aman dan damai sudah ditangan, hikmah tsunami sebagai kuasa Allah yang menimbulkan solidaritas global dan juga timbulnya damai. Aceh masih kaya akan sumber daya alam namun kita mesti berpikir pasca sumber daya alam, karena SDA bisa habis, sumber daya manusia lebih penting. Aceh sudah memiliki modal untuk membangun dan mencapai kemakmuran dengan implementasi MoU lahirnya UUPA yang harus diperkuat dengan PP dan Qanun. Aceh mesti membangun kembali SDM dengan poros Darussalam, Ilmuan mesti terlibat dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga lain. Mapping kebutuhan SDM mendesak dilakukan di Aceh, karena banyaknya Ilmuan menjadi syuhada ketika tsunami dan konflik.

Sesi kedua panel forum menampilkan Wakil Gubernur M. Nazar, S.Ag dengan makalah “Pilpres 2009 Harus Melahirkan Pemimpin Bangsa, Bukan Sekedar Penguasa”. Prof. DR. Ikrar Nusa Bhakti pengamat politik LIPI, M. Nasir Jamil, S.Ag dari Forbes DPR-RI Aceh, Muara Siraid Anggota DPR-RI juga sebagai Tim Sukses Mega-Prabowo dan Fakrul Tripa mewakili KPA yang di damping oleh Arief Jamaluddin, M.Si.

Wagub, menjelaskan, diperlukan pemahaman kembali tentang Aceh secara menyeluruh, Aceh mesti dilihat suatu identitas politik, etnisitas, sosial budaya, hukum dan ekonomi yang sudah lama terbentuk sebagai sebuah dialektika sejarah yang berkesinambungan. Aceh telah melalui fase-fase proses damai yang sangat melelahkan, dengan pengorbanan yang tiada henti. Untuk itu momentum yang ada tersebut menjadi tahapan baru dalam membangunAceh yang demokratis, berkesinambungan dan bermartabat. Kita ketahui konflik di Aceh berakhir di meja perundingan bukan dengan pola militeristik. Maka kita perlu memaksimalkan momentum yang ada, termasuk momentum perdamian termasuk Pilpres 2009. Kita membutuhkan pemimpin bangsa yang bukan sekedar penguasa, dengan melakukan menjaga perdamian dan pembangunan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat Aceh secara aktif terutama di tingkat Nasional. Penguatan desentralisasi dan UUPA dengan PP dan Qanun. Pemimpin Bangsa yang mampu menjadi fasilitator dan mediator bagi berbagai masalah bangsa, khsususnya Aceh dengan semangat yang tinggi terhadap perdamian dan hak-hak rakyat Aceh. Maka Siapapun Presiden dan Wakil Presiden nanti harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan Aceh, serta melihat lagi sejarah terdahulu Aceh sehingga mampu mempertahankan perdamaian dan melanjutkan pembangunan secara berkesinambungan. M. Nasir Jamil, berpendapat bahwa siapaun yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden nanti dapat mewujudkan otonomi khusus yang benar-benar khusus bagi Aceh dengan UUPA, sehingga Aceh bisa menjadi model bagi otonomi di Indonesia. Rakyat Aceh bisa mencermati Pilpres kedepan siapa yang sesuai dengan pribadi masing-masing. Aceh dapat lebih baik dengan tidak melihat kelebihan dan kekurangan siapa yang memimpin nanti. Prof. Ikrar, Pemerintahan Aceh di pimpin Irwandi-M. Nazar merupakan generasi I (pertama) dimana dipilih oleh rakyat dimasa era baru di Aceh pasca konflik. Rakyat Aceh dapat mengetahui mana pimpinan yang lebih baik untuk Aceh. Fahrul Tripa, untuk memilih pimpinan kedepan diwajibkan pemimpin yang yang amanah, fatanah dan fisioner dalam menjalankan kepemimpinan. Ciri-ciri negara yang bermasalah, menurutnya pimpinan tidak mermoral, pimpinan bermasalah, KKN, Pemerintah kehilangan wibawa dimata rakyat, kepercayaan internasional memudar, mengembalikan Aceh dengan mempunyai Identitas yang jelas, Aceh yang bermartabat dan menjalankan amanah dari UUPA, juga diisi dan menjalankan cita-cita rakyat Aceh. Mauara Siraid, melakukan trobosan bagi Indonesia, arah mana yang dituju. Dalam proses ketidakadilan rakyat Aceh kami sangat memperjuangkan keinginan rakyat Aceh dan melihat reputasi dan kridebilitas pimpinan nantinya. Ada dua hal yang dapat diperjuangkan yaitu dengan mendorong diperbesar anggaran masuk ke Aceh, anggaran tersebut dapat mempunyai dampak yang baik bagi kemiskinan dan pengangguran, dan itu akan kami lakukan. Saya kira rakyat Aceh, masing-masing kita punya pilihan. Perdebatan kemudian muncul berkenaan dengan UUPA, PP, Qanun. Nama Aceh, Perdamian dan pendidikan. Ketua Impas Aceh-Jakarta A. Murtala, M.Si, juga memberi tanggapan menekankan figure pemimpin bangsa, baginya pemimpin bangsa kedepan yang mampu menterjemahkan multikulturalisme dan fluralisme bangsa Indonesia.

Kesimpulan panel forum:
Aceh telah melalui pengalaman sejarah yang gemilang dan juga pengalaman yang mengakar terhadap konflik Aceh sepanjang sejarah. Momentum kedua adalah gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004. Mumentum ketiga, Memorandum of Understanding (MoU) Damai di Helsinski tepatnya pada 15 Agustus 2005. tempat menggantungkan masa depan rakyat Aceh. Keempat, Pilkada yang berlangsung 11 Desember 2006 secara demokratis. Para pemimpin yang terpilih dapat dikatakan sebagai representasi terbaik keinginan rakyat. Momentum kelima adalah lahirnya Enam Partai Lokal yang lolos verifikasi faktual KPU pusat, salahnya satunya adalah Partai Lokal mantan GAM. Momentum keenam, tingginya dinamika perpolitikan Aceh dalam pemilu legislatif 2009 dan Partai Aceh mengungguli ke lima Partai Lokal lainnya. Momentum ketujuh adalah strategi rakyat Aceh dalam menentukan Presiden dan wakil Presiden pada Pilpres 8 Juli 2009, mengingat bertahan tidaknya damai Aceh juga sangat tergantung pada Pemerintah baru yang akan terpilih dalam Pilpres 2009.

Untuk itu, pelibatan semua komponen masyarakat Aceh dalam proses perdamaian dan pembangunan berkelanjutan Aceh secara bermartabat merupakan perekat yang dapat mencegah rusaknya perdamaian. Mendesak kita lakukan sebagai langkah preventif adalah penyadaran kita semua dan publik. Harapannya agar semua menyadari betapa mahalnya harga perdamaian yang telah kita capai ini, dan cita-cita mempermanenkan kedamaian. Catatan ini hendak menyegarkan ulang memori kita tentang satu alternatif pemikiran agar Aceh bisa meninggalkan masa transisi ini se-segera mungkin. Intervensinya diarahkan pada usaha menemukan domain yang lebih efektif. Untuk itu, siapapun yang akan terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI dalam Pilpres 8 Juli 2009 harus tetap konsisten dan senantiasa berkomitmen untuk menjaga perdamaian abadi di Aceh serta membangun Aceh secara berkelanjutan, demokratis dengan konsep desentralisasi. Pemerintah Pusat dan daerah mesti dengan serius ihklas dan tetap konsisten untuk mengimplimentasikan butir-butir MoU Helsynki 15 Agustus 2005 dalam setiap kebijakan tentang Aceh. Pemerintah Pusat dan daerah mesti fokus terhadap agenda-agenda pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat yang sudah direncanakan untuk Aceh pasca konflik dan tsunami. MoU Helsinki 15 Agustus 2005 harus dijadikan sebagai titik awal dan momentum menuju perdamaian abadi di Aceh. Kepada semua elemen dan komponen bangsa dan masyarakat harus membangun rasa saling percaya dalam menuju pembangunan masa depan Aceh yang berkeadilan ekonomi, politik dan sosial budaya.

Wassalam : Zulkarnaini Abdullah
Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh – Jakarta
Office : Jln. Setiabudi Barat No. 01
Jakarta Selatan 12920
Telp. 021 – 71454371,
Email : impas.aceh@gmail.com
http://www.impasacehjakarta.wordpress.com

Iklan

1 Komentar

Filed under Uncategorized

KEGIATAN PANEL FORUM

baner-IMPAS

Panel Forum yang bertajuk “Arah Strategis Rakyat Aceh Dalam Menentukan Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres 8 Juli 2009”. Oleh karena hal tersebut diatas, Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh – Jakarta bekerjasama dengan Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P-LIPI)

Pengantar :

TOR   KEGIATAN PANEL  FORUM

Pengantar:

Mencermati tiga  kendidat pasangan Capres cawapres  tersebut  tentunya akan muncul pertanyaan  bagi rakyat Aceh dan pemerintah Aceh, mana yang paling baik untuk masa depan Aceh diantara  tiga kendidat tersebut, terutama yang memiliki komitmen untuk senantiasa menjaga damai Aceh? Memang masing-masing  mempunyai kelemahan namun juga telah memiliki  sejumlah  kelebihan. Pada tataran para politisi sipil PA-KPA disini terjadi perbedaan  dukung mendukung capres dan cawapres. Pada satu sisi mereka ada yang condong kepada sosok SBY tapi pada sisi lain ada yang cenderung mendukung pasangan JK dan Megawati-Parabowo. Namun pihak KPA-PA pasti akan lebih cermat melihat  pasangan mana yang akan lebih berpaluang untuk dapat dijadikan rekan kerja dimasa yang akan datang. Artinya arah angin kemana akan berhembus itu ada kemungkinan akan diikuti oleh para politisi KPA-PA. Posisi politisi KPA-PA di Aceh dalam  memilih capres dan cawapres pada 8 Juli 2009 nanti,  akan menjadi menarik sebab disitu sudah pasti akan tarik menarik kepantingan dan hitung menghitung peluang. Tiga kepentingan kontras  tersebut akan menjadi dilema jika para politisi PA di Aceh tidak cermat menghitung langkah demi langkah peluang para capres dan cawapres yang akan terpilih nanti.

Diakui bahwa mesin Politik PA masih efektif mempengaruhi suara Rakyat Aceh. Kemana arah angin PA-KPA kesitu pula kemungkinan arah rakyat Aceh. Artinya analisis strategis peluang Capres-cawapres kalangan PA-KPA mutlat diperlukan demi kepantingan masa depan Aceh. Kekuatan PA terbukti kuat di Aceh, artinya jangan salah membawa rakyat Aceh, rakyat mesti cerdas dalam menentukan pilihan. Politik memang susah diprediksi, terutama di Aceh. Hasil prediksi diatas kertas selalu meleset dari perhitungan sebenarnya. Contohnya ketika Pilkada 2006 di Aceh Irwandi-Nazar memenangkan pemilihan. Akankah terulang lagi sejumlah kejutan pada Pilpres 8 juli 2009. Namun siapapun yang akan terpilih  jadi Presiden dan wakil presiden pada periode 2009 hingga 2014 nanti, diharapkan dapat membawa Aceh lebih maju dan bermartabat.  Jangan sampai Angka Golput pada pemilu legislatif kemarin telah mencapai kurang lebih 7000 orang golput malah bertambah ketika Pilpres nanti.

Perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka  fakta perdamaian tersebut telah memasuki usia hamper empat tahun 15 Agustus 2009, mesti menjadi pijakan bagi para pihak. Simpul penting transformasi konflik menuju proses damai yang lebih stabil dan berkelanjutan telah dilalui. Kini, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mengikat komitmen damai bagi semua – peace process for all-, bukan hanya pihak yang bertikai saat itu. Sejak fakta perdamaian tersebut, nafas persengketaan dan permusuhan yang telah berakar lebih dari 30 tahun di Aceh mulai berhenti. Ia tergantikan dengan angin perubahaan yang jauh lebih signifikan dan makin melegakan. Damai ini mesti direfleksikan dengan rasa syukur oleh seluruh bangsa yang yang bermartabat. Cahaya perdamaian itu makin bersinar ketika pilkada dan Pemilu Legeslatif secara demokratis telah mampu memberi ruang baru bagi sirkulasi kekuasaan di Aceh. Para pemimpin yang terpilih dapat dikatakan sebagai representasi terbaik keinginan rakyat. Proses pemilihan yang nyaman dan  belum pernah dialami bumi Iskandar Muda ini sejak pemilu 1955, menggembirakan semua pihak: Jakarta, para stakeholders  rehabilitasi dan rekonstruksi, kelompok sipil demokratis, dan akar rumput. Pilkada dan Pemilu legeslatif pun melahirkan pemimpin yang beragam, mulai dari kelompok yang selama ini terbuang dari siklus kekuasaan (outsider) hingga masyarakat sipil yang dianggap berprestasi untuk menjaga momentum recovery Aceh.

Kemenangan calon independen dalam pilkada dan kemenangan Partai Aceh (PA) dalam  Pemilu kemarin misalnya, menunjukkan besarnya keinginan dari masyarakat sipil Aceh untuk menyongsong perubahan politik pemerintahan dan mengharapkan adanya visi pembangunan yang lebih mengakar pada kepentingan masyarakat luas dan korban dari kebijakan pro-Jakarta di masa lalu.  Aceh yang terlahir sebagai indentitas plural dan jamak telah melalui sejarahnya dengan panjang dan unik. Aceh tidak tunggal dalam memaknai perjalanan dirinya, karena Aceh adalah kumpulan keberagaman. Baik itu etnis, ras, suku, agama, sejarah bangsa bahkan juga pandangan politik. Dimasa-masa awal Aceh, keberagaman ini dapat dimaknai dan diapresiasi secara positif, sehingga Aceh lahir menjadi titik tolak peradaban bagi wilayah sekitarnya.

Terkait dengan itu, yang mendesak kita lakukan sebagai langkah preventif adalah penyadaran publik dan pendidikan politik bagi publik. Penyadaran ini kita tujukan kepada masyarakat umum agar tidak terpancing dengan keadaan yang provokatif itu, secara sadar atau tidak sadar memiliki potensi untuk menciptakan suasana chaos, baik karena motivasi psikologis, ekonomis ataupun politis. Harapannya agar semua menyadari betapa mahalnya harga perdamaian yang telah kita capai ini, dan cita-cita mempermanenkan kedamaian. Catatan ini hendak menyegarkan ulang memori kita tentang satu alternatif pemikiran agar Aceh bisa meninggalkan masa transisi ini se-segera mungkin. Intervensinya diarahkan pada usaha menemukan domain yang lebih efektif.

Bentuk Kegiatan:

Panel Forum, Rekomendasi dan sikap bersama keberlanjutan damai Aceh

Pembicara / Panelis :

  1. Praktisi
  2. Akademisi
  3. Peneliti
  4. Ke tiga paket Tim Sukses Capres

Tempat dan Waktu:

Hari dan tanggal                 :  Kamis, 25 Juni 2009

Pukul                                      :  09.00 –  14.30

Tempat                                  : Ruang Seminar Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

(LIPI) Lt. 1.  Jln.  Jend. Gatot Subroto No. 10 Jakarta Selatan

Indikatator Keberhasilan:

Adanya komitmen bersama antar rakyat Aceh dan rakyat Indonesia secara keseluruhan dalam menjaga dan mempertahankan perdamaian Aceh. Komitment membangun Aceh yang sejahtera dan bermartabat. Menjadi masukan bagi semua pihak  termasuk ketiga capres-cawapres tentang pentingnya menjaga keberlansungan damai Aceh dan pembangunan yang berkelanjutan.

Kepanitiaan

Penanggung Jawab Drs. A.Murtala, M.Si Ketua IMPAS Aceh – Jakarta
Panitia Pengarah Drs. A. Murtala, M.Si

Arief Jamaluddin

Sayuti Abubakar

Kamaruddin Hasan (ex officio)

Ketua

Sekretaris

Anggota

Panitia Pelaksana Kamaruddin Hasan

Zulkarnaini Abd, SE

T. Salsabil Ali, SE

Imelda Muktar

Deddy Satria. M

Iskandar, M.Si

Fideliani, M.Si

Zulfitra, M.Si

Ketua

Sekretaris

Bendahara

Koord.  Acara dan undangan

Koord. Tempat dan perizinan

Koord. Transportasii

Koord. Pubdekdok

Koord. Konsumsi

Keberlanjutan Damai

Upaya mempertahankan perdamaian dan memasyarakat ide-ide perdamaian bagi semua kalangan termasuk kalangan muda, mahasiswa  dan kelompok kritis lainnya baik Aceh maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan, dilakukan dengan berbagai cara. Moment Pilpres 2009 menjadi penting mengingat perubahan arah politik di Indonesia.  Diharapkan siapapun yang akan terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Juli 2009 dapat meneruskan komitment untuk menjaga, mempertahankan damai dan membangun Aceh.

Pihak yang terkait, antara lain:

Unsur Pemerintah Pusat dan daerah, Tim Sukses Capres dan Cawapres, Kalangan pemuda dan Mahasiswa Aceh, Organisasi kemasyarakat Aceh-Jakarta, KPA dan unsur Parlok PA, SIRA,PRA, PDA, PBA dan PAS. Unsur lainnya seperti IPI, LIPI, Interpeace, Forbes DPR pusat, Unsur TNI dan Polri, Unsur Perguruan Tinggi Provinsi NAD, CSIS, ICG, World Bank, USAID, Acehinstitut, Akademisi, Desk Aceh Fisip UI, Para Juru Runding MoU Helsinki, Unsur Lembaga Swadaya Masyarakat dan NGO’s (Lokal dan Internasional), Unsur Media (Internasional, Nasional dan Daerah) dan lain-lain.

Jadwal Acara

Waktu

Kegiatan

Penanggung Jawab

09.00 – 09.30

Coffee Morning Panelis/peserta/panitia

09.30 – 09.35

Pembukaan Acara Panel Forum Rahmad Kurniawan Putra

09.35 – 09.45

a. Pembacaan Ayat suci Al-Quran Muhammad Ihsan

09.45 – 10.00

b. Laporan Panitia Kamaruddin Hasan

10.00 – 10.20

c. Sambutan Ketua IMPAS – Aceh Jakarta Drs. A. Murtala, M.Si

10.20 – 10.50

d. Sambutan Ketua Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P-LIPI) Prof. DR. Syamsuddin Haris, M.Si

10.50 – 11.20

e. Sambutan Mewakil Bupati/Walikota Bapak Ilyas A. Hamid

11.20 – 12.00

Keynote Speaker : DR. Mustafa Abubakar

12.00 – 12.10

Penutupan Acara Pembuakan & Do’a Tgk Afriansyah

12.10 – 13.00

ISHOMA Panelis/peserta/panitia

Acara diserahkan kepada Moderator

13.00 – 13.15

Panel Forum Moderator

Arief Jamaluddin M.Si

“Arah Strategis Rakyat Aceh Dalam Pilpres 2009” Panelis:

13.15 – 13.35

Pemerintah Aceh 1. Muhammad Nazar, S.Ag

13.35 – 13.55

Komite Peralihan Aceh (KPA) 2. Komite Peralihan Aceh (KPA)

13.55 – 14.15

Forbes Aceh 3. Nasir Jamil, S.Ag

14.15 – 14.35

Pengamat Politik LIPI 4. Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti

14.35 – 14.55

TIM Sukses Jusuf Kalla – Wiranto 5.DR. Fuad Bawazir

14.55 – 15.15

TIM Sukses SBY – Boediono 6. Hayono Isman

15.15 – 15.35

TIM Sukses Mega – Prabowo 7. Fadli zon

15.35 – 16.00

Sesion Tanya Jawab Peserta

16.00 – 16.10

Pembacaan dan Penandatanganan Rekomendasi & Pernyataan Sikap Damai Aceh Zulkarnaini Abdullah,                                Sekretaris IMPAS Aceh – Jakarta

Clossing Panel Forum Moderator

Rangkaian Panel Forum Selesai

Penutup

Keberhasilan kegiatan panel forum ini sangat tergantung pada persiapan dan penggarapan keseluruhan rangkaian kegiatan mulai dari perencaaan sampai pelaksanaan. Akhirnya dengan senantiasa memohon perlindungan dan restu Yang Maha Kuasa, serta bekerjasama dengan semua pihak yang terlibat dalam acara ini, kami berharap acara ini dapat berjalan sesuai dengan rencana dan target serta tujuan


Panitia Panel Forum

Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) ACEH-JAKARTA

Zulkarnaini Abdullah

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Tiga Tahun Perjanjian Helsinki “Warga Aceh Berdoa di Bunderan HI

——————————

SIARAN PERS

Tiga Tahun Perjanjian Helsinki

Warga Aceh Berdoa di Bundara HI

Jakarta – Warga Aceh yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya akan mengadakan doa bersama pada Kamis (14/8) pukul 20.30 Bundara Hotel Indonesia Jakarta, yang di mulai dengan do’a dan tahlil pada pukul 19.00 WIB di Wisma Foba Jln Setibudi Barat No 01 Jakarta selatan dan selanjutnya melakukan Aksi Damai di Bunderan HI. Aksi refleksi tiga tahun Indonesia-Gerakan Aceh Mardeka (GAM) ini sebagai tanda syukur dilaksanakan perjanjian perdamaian di Helsinki, 15 Agustus 2005 yang mengakhiri penderitaan rakyat Aceh. “Kita tetap optimis, perdamaia yang bersemi di Aceh tetap dan harus bertahan untuk selamanya,” sebut Ketua Panitia Bersama Tiga Tahun Aceh Damai Kamaruddin Hasan kepada wartawan, Senin (11/8).
Kamaruddin menjelaskan pada malam renungan dan doa bersama adalah salah satu kegiatan untuk mengkomunikasi pentingnya menjaga perdamaian Aceh sebagai contoh keberhasilan negosiasi diplomatik dan resolusi konflik di Indonesia. Di sisi lain, pentingnya menjaga keterbukaan informasi dalam mencari jalan keluar dari kebuntuan politik. “Perdamaian di Aceh dan di seluruh Indonesia harus selalu digaungkan agar kita bisa mewaspadai riak-riak penghancur damai sendiri, “jelas mahasiswa Pasca Sarjana di Universitas Indonesia ini.

Sekretaris Panitia Zulkarnaini Abdullah menjelaskan, pada malam renungan di Bundara HI akan dihadiri ratusan warga Aceh, non Aceh serta simpatisan, yang diawali dengan tahlil dan doa Bersama di Asrama Mahasiswa FOBA Setia Budi Jakarta, Malam renungan di Bunderan HI dengan menyalakan obor, aktraksi rapa’i dan seureune Kalee, teatrikal art perdamaian, pembagian bunga perdamaian, orasi tiga tahun damai Aceh oleh simpul-simpul aksi dan tokoh-tokoh perdaimaian. “Acara ini diakhiri dengan pelepasan merpati sebagai simbol perdamaian Aceh harus abadi,” sebut Zulkarnaini.

Kegiatan rutin pasca perjanjian Helsinki ini diadakan oleh Koalisi Aksi bersama organisasi kemahasiswaan dan masyarakat yang meliputi Ikatan Mahasiswa Pascasarjana IMPAS Aceh – Jakarta, Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara KMPAN, Ikatan Mahasiswa Pemuda Aceh Jakarta IMAPA, dan Mahasiswa FOBA Jakarta. Serta di dukungan lainnya dari IKAPA Bandung, IMTR Bogor, Tokoh – Tokoh Aceh Jakarta, Simpul – Simpul Mahasiswa Aceh Jakarta, Tokoh – Tokoh Perdamaian Nasional, Simpul-simpul masyarakat Aceh jabodetabek, Kalam FOBA, NGO-NGO yang fokus terhadap perdamaian, dan masyarakat lainnya yang fokus dan konsen terhadap perdamaian.

Jakarta, 11 Agustus 2008

KOALISI AKSI 3 TAHUN DAMAI ACEH

ZULKARNAINI ABDULLAH

Sekretaris Panitia

Infomasi lebih lanjut dapat menghubungi salah satu Panitia Kegiatan :
1. Kamaruddin Ketua Panitia ( 081395029273 )
2. Zulkarnaini Abd Sekretaris Panitia ( 081360929319 )
3. A. Murtala IMPAS – Aceh Jakarta ( 085280180008 )

4. Munawar Ketua IMAPA ( 081315008031 )

5. Chalil Ilyas Sekjend KMPAN ( 081398009600 )


Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Mahasiswa Pascasarjana Aceh Jakarta (IMPAS) Mendeklarasikan Diri

Mahasiswa pascasarjana asal Nanggroe Aceh Darussalam yang sedang menempuh pendidikan diberbagai universitas negeri dan swasta di Jakarta pada hari Jum’at (04/07/08), berhasil mendeklarasikan pembentukan Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh Jakarta. Acara yang berlangsung di ruang rapat Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP TIM) ini diprakarsai oleh representasi mahasiswa pascasarjana, seperti A. Murtala, Kamaruddin Hasan, Zulkarnaini Abdullah, Deddy Satria M, Husaini Jamil, Sulfitra, Sayuti Abubakar, Teuku Salsabil Ali, Arief Jamaluddin, Rudi Faisal, Muslim, Iskandar dan lain-lain.

Dalam deklarasi IMPAS Aceh Jakarta tersebut telah terpilih A. Murtala sebagai ketua, Kamaruddin Hasan sebagai wakil ketua, Zulkarnaini Abdullah sebagai sekretaris dan T. Salsabil Ali sebagai bendahara.

Terbentuknya IMPAS Aceh Jakarta secara formal dan permanen bertujuan antara lain untuk mempererat tali silaturahmi baik sesama mahasiswa pascasarjana maupun dengan elemen lain yang ada di Jakarta maupun di daerah. Oleh karenanya, Ikatan ini akan fokus dalam program-program peningkatan mutu pendidikan dan penalaran, melakukan riset dan pengabdian kepada rakyat, melakukan advokasi, membangun komunikasi aktif dan efektif dengan berbagai kalangan. Selain itu, sasaran IMPAS Aceh Jakarta kedepan adalah mendorong keterlibatan semua pihak untuk ambil bagian dan bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu pendidikan dan sumber daya manusia Aceh.

Ketua terpilih A. Murtala mengatakan, Provinsi Aceh sudah mulai tertinggal dengan daerah lain di Nusantara dalam berbagai hal. Padahal Aceh merupakan spirit inovasi yang kemudian diformulasikan oleh pemerintah pusat untuk diimplementasikan terhadap daerah lainnya di Indonesia. Sudah seharusnya semua komunitas masyarakat Aceh baik di daerah maupun di luar ikut membangun komunikasi yang baik dan menjaga kekompakan. Sementara itu Kamaruddin Hasan sebagai wakil ketua menambahkan, bahwa terbentuknya IMPAS Aceh Jakarta dapat juga dikatakan sebagai bentuk silaturahmi kaum intelektual muda Aceh diperantauan dalam basis keilmuan dalam membangun Aceh dan Nusantara.

Untuk mengawali momentum ini, IMPAS Aceh Jakarta merencanakan akan menggelar kegiatan Refleksi 3 Tahun MoU Perdamaian Aceh yang terdiri dari pertama Malam Renungan dan Doa Bersama yang melibatkan seluruh elemen Aceh dan luar Aceh pada malam tanggal 15 Agustus 2008 di bundaran Hotel Indonesia Jakarta . kedua Workshop Pendidikan Untuk Perdamaian dengan tema ”Perdamaian Abadi Sebagai Basis Kebudayaan”. Acara ini akan berlangsung selama dua hari penuh dengan sasaran peserta dari kelompok kritis dari Aceh maupun luar Aceh seperti dari Papua, Maluku, Makassar, Poso, Kalimantan, Riau dan daerah lainnya yang selama ini fokus terhadap ide-ide perdamaian. Dan yang ketiga Malam Ekspresi Seni Budaya Aceh, sebagai rangkaian penutup kegiatan Refleksi 3 Tahun MoU Perdamaian Aceh yang akan diisi dengan orasi budaya, pembacaan puisi/hikayat, seni tutur ala PMTOH dan pagelaran tari tradisi Aceh.

Diharapkan dengan terbentuknya IMPAS Aceh di Jakarta yang diikuti dengan kegiatan Refleksi 3 Tahun MoU Perdamaian Aceh dapat menjallin silaturahmi antara sesama mahasiswa pascasarjana Aceh di Jakarta.

Hormat kami,

Zulkarnaini Abdullah (Sekretaris IMPAS Aceh Jakarta)

e-mail : impas.aceh@gmail.com

hp : 081360929319

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Malam Renungan/do’a Peringatan 3th MoU Helsingki di Jkarta

[rockyou id=120740824&w=426&h=319]

1 Komentar

Filed under Uncategorized